May 11 2026

Sekilas Cerita Perjalanan Produksi Video Pangan Lokal di Tanah Papua


Sekilas Cerita Perjalanan Produksi Video Pangan Lokal di Tanah Papua

Sagu, umbi-umbian, dan hasil hutan Papua bukan sekadar makanan masa lalu; mereka adalah identitas masa depan. Dalam upaya mendorong pangan lokal masuk ke dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, Perkumpulan Mandala Katalika (Manka) berkolaborasi dengan Gudskul dan berbagai komunitas seni lokal dalam memproduksi video kampanye kreatif di Papua Barat Daya dan Papua Selatan pada 15–28 April 2026.

Produksi video ini dirancang untuk memposisikan pangan lokal sebagai gaya hidup yang modern, membanggakan, dan berkelanjutan bagi siswa sekolah. Melalui pendekatan visual yang sinematik dan estetika yang populer di kalangan generasi muda, Manka ingin membangun narasi emosional tentang hubungan erat antara konsumsi pangan lokal dengan pelestarian hutan Papua yang masih utuh. Keunikan produksi ini terletak pada keterlibatan aktif bakat-bakat kreatif lokal hasil inkubasi studi kolektif Manka.

Di Sorong, Manka bersinergi dengan Sanggar Seni Klabra Raya, sementara di Merauke, kolaborasi melibatkan Komunitas Seni Anim Ha (Kampung Urumb), Yekinto (Kampung Yanggandur), dan Yoka (Kampung Sota). Selama dua minggu, tim menelusuri keindahan alam Papua untuk menangkap momen-momen bermakna. Di Sorong, pengambilan gambar difokuskan pada proses pengolahan sagu serta perjalanan ke hutan untuk melihat langsung ekosistem sagu. Di Merauke, tim mengabadikan keseharian masyarakat Kampung Yanggandur dalam mengolah sagu serta performa seni kolaboratif yang menggabungkan ekspresi kegembiraan dan kebanggaan atas pangan asli tanah mereka.

Selain teknis produksi, kunjungan ini juga memperkuat posisi strategis Manka melalui audiensi dengan pemangku kebijakan. Dukungan positif datang dari Dinas Lingkungan Hidup Papua Barat Daya serta Bapperida Papua Selatan, yang memberikan lampu hijau bagi pelaksanaan perencanaan partisipatif (Multipol) di wilayah tersebut. Pascaproduksi, video ini diharapkan menjadi alat komunikasi visual yang bisa untuk memberikan gambaran positif bagi para siswa sekolah agar beralih ke pangan lokal. Manka berkomitmen untuk terus mengawal proses penyuntingan agar pesan kedaulatan pangan tetap menjadi inti cerita, sehingga kebanggaan mengonsumsi pangan lokal dapat berjalan beriringan dengan misi menjaga kelestarian hutan Papua bagi generasi mendatang.