Di tengah rencana pemerintah untuk mendorong Program Strategis Nasional (PSN) Food Estate dan kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG), Perkumpulan Mandala Katalika (Manka) bergerak untuk memastikan bahwa masyarakat adat tetap memiliki peran utama dalam ketahanan pangan. Pada 17–21 September 2025 lalu, Manka melaksanakan studi lapang komprehensif di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Studi ini bertujuan untuk menggali bukti lapangan mengenai potensi besar pangan lokal seperti sagu dan umbi-umbian sebagai fondasi utama dalam rantai pasok pangan nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pencarian data melalui proses diskusi dengan masyarakat
Melalui observasi lapangan di Kampung Mawan, Distrik Mandobo, tim menemukan bahwa sagu dan umbi-umbian bukan sekadar sumber kalori, melainkan elemen vital dalam struktur sosial-ekonomi dan ekologi lahan gambut. Integrasi pangan lokal ke dalam program MBG dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan gizi masyarakat tanpa harus mengabaikan hak adat atau merusak keseimbangan karbon hutan Papua. Manka berkolaborasi erat dengan Perkumpulan Harmoni Alam Papuana (PHAP), Universitas Musamus, Eladdper, Papua Paradise Center, dan Keuskupan Merauke dalam melakukan pemetaan melalui metode Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam.

FGD yang dilakukan PHAP dalam pencarian data
Selain itu, koordinasi intensif dilakukan dengan instansi pemerintah setempat, termasuk Bapperida Kabupaten Boven Digoel dan UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Boven Digoel. Audiensi ini berhasil memetakan dukungan pemerintah daerah dalam penguatan pangan lokal serta menyelaraskan visi pengelolaan hutan dengan kesejahteraan masyarakat. Hasil dari studi ini akan dikompilasi menjadi dokumen basis data strategis yang mencakup aspek tata ruang, ekonomi rumah tangga, serta praktik pertanian ideal di wilayah Papua Selatan.

Manka dan PHAP melakukan diskusi dengan tokoh masyarakat untuk memetakan potensi pangan lokal di Kampung Mawan Distrik Mandobo
Sebagai tindak lanjut, Manka bersama mitra akan melakukan diseminasi hasil studi dan merumuskan baseline kebijakan bersama Forest Watch Indonesia (FWI). Langkah ini diharapkan dapat menciptakan skema integrasi pangan yang menghargai hak adat, menjaga keanekaragaman hayati, dan memberikan dampak ekonomi jangka panjang yang positif bagi masyarakat. Dengan menempatkan sagu dan pangan lokal sebagai "benteng" pangan, Manka berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan nasional agar selaras dengan kearifan lokal dan kelestarian ekologi di Tanah Papua.
Â
Pencarian data yang dilakukan Universitas Musamus dengan metode wawancara mendalam