Manka, 25 September 2026 — Manka bersama Papua Paradise Center (PPC) menggelar pemutaran film edukasi Kampanye Pangan Lokal berjudul “Epermenkei” pada 25 September 2026 lalu di SMA Plus Satu Atap Wasur, Papua Selatan. Kegiatan ini diikuti oleh pelajar yang mayoritas merupakan Orang Asli Papua (OAP), sebagai ruang belajar bersama untuk mengenal pangan lokal melalui film, diskusi interaktif, dan aktivitas kreatif.
Melalui kegiatan ini, pelajar diajak memahami pesan yang disampaikan dalam film, berbagi pandangan mengenai pangan lokal, serta menyampaikan gagasan tentang keberadaan dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Rangkaian kegiatan juga dirancang untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam mengenal pangan lokal sebagai bagian dari pengetahuan dan budaya masyarakat Papua.
Sesi Nonton Bersama Film Edukasi Pangan Lokal bersama Siswa SMA Satu Atap WasurKegiatan ini diawali dengan pemutaran film Epermenkei. Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi adalah berbagi pengalaman bersama Laura dan Christine dari Komunitas Amin Ha Urumb, yang menjadi pemeran utama dalam film tersebut. Keduanya menceritakan pengalaman selama proses produksi, termasuk keterlibatan dalam pengangkatan seni dan budaya lokal serta pengalaman personal dalam mengenal dan memaknai pangan lokal.
Sesi Sharing oleh Laura dan Christine dari Komunitas Amin Ha UrumbPeserta juga diajak diskusi interaktif untuk membahas perasaan dan pilihan mereka terhadap pangan lokal. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana perasaan mereka jika selama tiga hari berturut-turut hanya tersedia sagu di rumah. Dari respons yang tercatat, 15 peserta memilih emotikon sedih dan tiga peserta memilih emotikon datar atau biasa saja. Peserta lainnya memberikan respons emosional yang berbeda.
Sesi diskusi interaktif untuk menggali pandangan siswa dan siswi.Diskusi berikutnya mengajak peserta menyampaikan pendapat mengenai kemungkinan penggunaan pangan lokal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui sticky notes, para pelajar menyampaikan dukungan sekaligus usulan mengenai variasi menu yang dapat diterapkan. Beberapa menu yang diusulkan antara lain sagu bakar, papeda, ubi atau petatas, kumbili, pisang, ikan mujair, ikan gastor, ikan kuah kakap, serta daging saham (wallaby). Sebagian peserta juga menyampaikan bahwa pangan lokal sebaiknya dikombinasikan dengan makanan nonlokal dan disajikan secara berkala, misalnya satu kali dalam seminggu. Beragam tanggapan ini memperlihatkan bahwa pelajar dapat menyampaikan gagasan konkret mengenai pengembangan menu berbasis pangan lokal.
Kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas kelompok berbasis minat yang difasilitasi oleh tim PPC. Peserta dibagi ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok masak, gambar, tulis, dan seni budaya. Kelompok masak merancang menu berbahan pangan lokal dan menuangkannya dalam catatan kelompok. Kelompok gambar mengekspresikan pandangan mereka mengenai pangan lokal melalui karya visual. Sementara itu, kelompok tulis mengembangkan cerita tentang pengalaman berburu wallaby serta menulis puisi bertema pangan lokal. Kelompok seni budaya membuat pantun yang mengangkat tema serupa.
Peserta kelompok seni budaya menampilkan karya pantun yang telah mereka susunMelalui pemutaran film Epermenkei dan diskusi bersama pelajar, Manka bersama PPC membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal pangan lokal, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan gagasan berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk mendekatkan isu pangan lokal kepada generasi muda melalui pendekatan partisipatif. Dengan melibatkan pelajar dalam diskusi dan aktivitas kreatif, pengetahuan tentang pangan lokal dapat diperkenalkan tidak hanya sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan dan budaya yang perlu terus dikenal dan dirawat.