Fairatmos bekerja sama dengan Boston Consulting Group (BCG) sukses meluncurkan laporan yang menunjukkan potensi besar Asia Tenggara dalam menghadapi perubahan iklim. Hal ini dimungkinkan melalui berbagai inovasi teknologi iklim yang semakin canggih.

Fairatmos, sebuah perusahaan teknologi iklim yang memiliki misi menyederhanakan proses pengembangan penyeimbangan karbon berkualitas. Fairatmos telah Bersama BCG, Fairatmos berhasil menerbitkan laporan yang berjudul Climate Technology: Southeast Asia`s Role in Combating Climate Change.

Laporan tersebut memaparkan peluang-peluang signifikan yang ditawarkan oleh solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions/NbS) di wilayah tersebut, dengan potensi pasokan offset karbon yang diperkirakan sekitar 30% secara global pada tahun 2030.

CEO Fairatmos Natalia Rialucky menjelaskan bahwa, didirikannya Fairatmos pada tahun 2022 ialah sebagai upaya untuk menciptakan dunia di mana kepentingan bisnis, manusia, dan lingkungan dapat hidup berdampingan. Menurutnya, Asia Tenggara memiliki banyak potensi untuk mengatasi perubahan iklim melalui solusi berbasis alam.

“Sebagai perusahaan teknologi iklim pionir di Asia Tenggara, kami tergerak oleh visi bersama dalam membangun masa depan yang berkelanjutan dan berkomitmen untuk menjadi pelopor dalam solusi-solusi yang memberikan manfaat lingkungan dan sosial yang nyata,” ungkap Natalia.

Laporan yang dipresentasikan pada Indonesia Future of Climate Summit tahun 2023 ini mengungkapkan wawasan penting tentang potensi Asia Tenggara yang belum tereksplorasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui penerapan solusi iklim berbasis alam. Solusi yang ditawarkan mencakup berbagai inisiatif, termasuk reboisasi, penanaman kembali hutan, restorasi lahan basah, dan pertanian yang berkelanjutan, dimana semua itu berkontribusi pada penyimpanan karbon dan konservasi keanekaragaman hayati.

Tidak hanya potensi yang belum tergali, laporan tersebut juga menyoroti berbagai tantangan di sepanjang rantai nilai yang menghambat adopsi proyek NbS secara luas. Menurutnya, isu-isu yang terkait dengan transparansi proyek, visibilitas permintaan hingga jaminan kualitas merupakan hambatan yang harus diatasi secara kolaboratif demi memanfaatkan potensi dari wilayah tersebut dalam memerangi perubahan iklim.

Yulius, selaku Managing Director dan Senior Partner dari BCG, mengungkapkan bahwa mengatasi perubahan iklim merupakan tugas yang keberhasilannya tidak mungkin dicapai tanpa adanya kerja sama.

Lebih lanjut ia memaparkan, untuk membuat kemajuan dalam mempercepat adopsi solusi dan teknologi berbasis iklim, diperlukan tindakan kolektif dari penyedia teknologi, pemimpin industri, pemangku kepentingan, pihak keuangan, pemerintah hingga regulator.

“Dengan masa depan lingkungan kita ada dalam bahaya, setiap penundaan dalam melakukannya bisa berarti konsekuensi yang tidak dapat diubah bagi komunitas kita dan generasi mendatang,” jelas Yulius.

Indonesia Future of Climate Summit 2023 merupakan acara dengan teknologi iklim pertama yang ramah karbon di Indonesia, yang terselenggara berkat kolaborasi Fairatmos, Yayasan Paloma Sjahrir dan Kadin, di Hotel Dharmawangsa di Jakarta.

Artikel lainnya